Bahan Perekat Pelet Kayu
By: Date: July 21, 2020 Categories: Umum

Bahan Perekat Pelet Kayu

 

Pelet kayu adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket (Windarwari, 2011). Bahan tambahan perekat tapioka dan sagu merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan pelet kayu karena mudah didapat, harganya relatif  murah dan dapat menghasilkan kekuatan rekat kering yang tinggi serta tidak membahayakan dalam penggunaanya.

Penambahan perekat dalam pembuatan pelet kayu dimaksudkan agar partikel arang saling berikatan dan tidak mudah hancur.

Ditinjau dari jenis perekat yang digunakan, pelet dapat dibagi menjadi (Utami, 2017):

  1. Pelet yang sedikit atau tidak mengeluarkan asap pada saat pembakaran. Jenis perekat ini tergolong kedalam perekat yang mengandung zat pati.
  2. Pelet yang banyak mengeluarkan asap pada saat pembakaran. Jenis perekat ini tahan terhadap kelembapan tetapi selama pembakaran menghasilkan asap.

Perekat dari zat pati, dekstrin, dan tepung jagung cenderung sedikit atau tidak berasap. Sedangkan perekat dari bahan ter, pith, dan molase cenderung lebih banyak menghasilkan asap (Harloyo & Roliadi, 1978).

Perekat pati dalam bentuk cair mampu menghasilkan pelet kayu bernilai rendah dalam hal kerapatan, keteguhan tekan, kadar abu, dan kadar zat mudah menguap. Akan tetapi hal tersebut dapat  tinggi apabila menggunakan perekat molase (tetes tebu) yang mampu menghasilkan pelet yang sangat kuat dan baik mutu pembakarannya, akan tetapi berasap (Sudrajat, 1983).

Perekat kanji yang berasal dari tepung tapioka ditambah dengan air. Perekat umum digunakan sebagai bahan perekat pada pelet kayu, karena banyak terdapat di pasaran dan harganya relatif murah. Pada pertimbangan lain bahwa perekat kanji dalam penggunaannya menimbulkan asap yang lebih sedikit dibandingkan bahan lain.

Akan tetapi perekat ini mempunyai kelemahan yaitu sifatnya tidak tahan terhadap kelembapan. Hal ini disebabkan tapioka mempunyai sifat dapat menyerap air dari udara. Kadar perekat dalam pelet tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan penurunan mutu pelet kayu yang sering menimbulkan banyak asap. Kadar perekat yang digunakan umumnya tidak lebih dari 5% (Utami, 2017).