Cara Mengatasi Kecemasan Anak Prasekolah

Kenali lebih dulu 3 kegelisahan anak prasekolahyang mungkin dirasakan si kecil, yakni:

Separation anxiety
Kecemasan ini muncul saat ia mesti berpisah dengan Anda. Meski tidak tidak jarang kali terjadi masing-masing waktu, namun sering hadir pada sejumlah momen penting. Contoh, pada hari kesatu sekolah atau ketika ia masuk ke daycare yang baru. Reaksi yang umum terjadi ialah anak menangis saat berpisah dengan ayah atau ibu. Kemudian anak pun menolak pergi ke sekolah atau daycare, mengeluh sakit ketika berpisah dengan ayah atau ibu.

Kecemasan umum yang dirasakan anak seusianya
Biasanya terdapat pula kegelisahan umum yang dirasakan anak seusianya. Hal ini bersumber dari khayalan luar biasa si kecil atau kurangnya empiris anak berinteraksi dengan urusan yang ia cemaskan. Dapat pula bermula dari kejadian nyata yang ia lihat atau alami sendiri, maupun kisah dari rekan atau televisi. Anak dengan cepat mengadopsi rasa fobia dari orang tua, saudara, rekan sebaya, atau barangkali tokoh kartun favoritnya. Contohnya, takut keadaan gelap, hantu, kecoa, anjing galak, dan monster di kolong lokasi tidur.

Kecemasan sosial
Tidak seluruh anak dapat dengan gampang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan rekan baru. Beberapa anak memilih guna bersembunyi di balik orang tua daripada langsung berbaur dengan orang yang asing baginya. Tidaklah heran andai ia enggan disuruh bersalaman, diam ketika ditanya, atau tampil dengan mudahnya di hadapan orang banyak.

Setelah Anda memahami apa saja kegelisahan anak prasekolah, Anda dapat membantu ia mengelola rasa khawatir tersebut. Menakut-nakuti atau menegasi perasaan cemasnya tidak akan menolong anak menghapus perasaan tersebut. Bantu anak guna mengakui bahwa ia memang fobia dan khawatir, sampai-sampai ia dapat menerima perasaan itu dalam dirinya.

Lalu, ajak anak bertukar pikiran tentang apa yang ia khawatirkan. Bertanyalah dengan lembut, tanpa menakut-nakuti atau meremehkan. Hindari kalimat, “Ah payah, masa begitu saja takut.” Lebih baik ucapkan, “Ya, Ibu tahu anda takut. Mau kisah apa yang buat kamu khawatir?” seraya memeluknya. Dengan mengelola perasaan cemas, anak pun belajar mengetahui dirinya sendiri.

Terakhir, selalu berjuang membesarkan hati anak dengan meyakinkan ia dapat mengatasi urusan tersebut. Ajari ‘mantra’ simpel yang dapat ia sampaikan untuk memotivasi diri, laksana “Aku tentu bisa!”Dengan demikian, anak sadar kecemasan tersebut sesuatu yang dapat ia atasi, sekaligus menjadi desakan untuk menjalani apa yang sedang ia hadapi dengan sarat keyakinan.

Sumber : http://www.studivz.net/Link/Dereferer/?https://www.pelajaran.co.id/