Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal
By: Date: June 28, 2020 Categories: Uncategorized

Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal

Tokoh paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih, seperti yang telah di uraikan sebelumnya. Hanya ada sedikit tokoh non-kulit putih yang berhasil mendapatkan gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di bidang ini. Dua tokoh keturunan Amerika-Afrika yang menonjol di bidang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Clark. Mereka berdua melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Amerika-Afrika. Tokoh etnis minoritas lain dalam bidang ini adalah George Sanchez, psikolog keturunan Negara latin, ia melakukan riset yang mrnunjukksn bahwa tes kecerdasan secara cultural telah dibiaskan dan merugikan anak-anak etnis minoritas. Tokoh lain di bidang ini adalah Leta Hollingworth, seorang tokoh perempuan, yang sering diabaikan dalam sejarah psikologi pendidikan. Hollingworth juga adalah orang pertama yang menggunakan istilah gifted untuk mendeskripsikan anak-anak yang mendapat skor istimewa dalam tes kecerdasan.
D. Perkembangan Lebih Lanjut tentang Psikologi Pendidikan
Pendekatan Thorndike untuk studi pembelajaran digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan di awal abad ke-20. Dalam ilmu psikologi Amerika, padangan B.F Skinner, yang didasarkan pada ide-ide Thorndike, sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Skinner berpendapat bahwa proses mental yang dikemukakan oleh James dan Dewey adalah proses yang tidak dapat diamati dan karenanya tidak bisa menjadi subyek studi psikologi ilmiah yang menurutnya adalah ilmu tentang perilaku yang dapat diamati dan ilmu tentang kondisi-kondisi yang mengendalikan perilaku. Pada 1950-an, Skinner mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram), yakni setelah murid melalui serangkaian langkah ia terus di dorong (reinforced) untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Skinner menciptakan sebuah alat pengajaran yang berfungsi sebagai tutor dan mendorong murid untuk mendapatkan jawaban yang benar.
Akan tetapi, muncul keberatan terhadap pendekatan behavioral yang dianggap tidak banyak tujuan dan kebutuhan pendidikan di kelas. Sebagai reaksinya pada 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian kognitig yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing, dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dan dikembnagkan oleh guru untuk membantu murid-muridnya. Perspektif kognitif menyimpulkan bahwa analisis behavioral terhadap instruksi sering kali tidak cukup menjelaskan efek dari instruksi terhadap pembelajaran. Revolusi kognitif dalam psikologi pun mulai berlangsung pada tahun 1980-an dan disambut hangat karena pendekatan ini mangaplikasikan konsep psikologi kognitif untuk membantu murid belajar. Jadi, menjelang akhir abad ke-20 banyak ahli psikologi pendidikan kembali menekankan pada aspek kognitif dari proses belajar.
Pendekatan kognitif dan pendekatan behavioral hingga saat ini masih menjadi bagian dari psikologi pendidikan, namun selama beberapa decade terakhir abad ke-20, ahli psikologi pendidikan juga semakin memperhatikan aspek sosioemosional dari kehidupan murid. Misalnya mereka menganlisa sekolah sebagai konteks sosial dan mengkaji peran kultur dalam pendidikan.

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta