Harga yang pantas
By: Date: May 4, 2020 Categories: Umum

Table of Contents

Harga yang pantas

Harga yang pantas

Harga yang pantas

Kemarin, 10 nopember 2007, selesai dari menghadiri resepsi nikahan seorang rekan kerja, kami serombongan mampir untuk membeli buah mangga di pinggir jalan. Awalnya kami tertarik karena diiklankan Rp. 1500,-. Kami kemudian berhenti. Kami pun bertanya: yang ini mangga apa ini? Berapa sekilonya? Kalo yang ini? Kalo yang ini dst. Kemudian pejualnya menawari uantuk mencicipi manggaanya. Manis. Lalu rekan saya mulai menetapkan pilihannya. Jenis yang dipilih adalah Manalagi Karena lebih awet dan tidak mudah busuk seperti Gadung. Penjual awalnya memberi patokan Rp. 4500 perkilonya. Lalu kami menawar Rp. 2500,-. Akhirnya setelah tawar menawar yang lumayan lama, disepakati Rp. 3000,- perkilonya.

Sekitar puasa ramadhan kemarin, saya membeli apel di toko buah yang banyak berada di malang. Saya tidak bertanya dulu berapa harganya karena saya pikir harganya juga akan standar saja. Lalu saya ambil 3 buah apel merah Washington. Paling-paling tidak sampai sepuluh ribu pikir saya. Pada saat mau membayar, saya kaget. Harganya jauh diluar perkiraan. Lebih dari 2 kali lipat perkiraan saya. Cepat-cepat saja saya tutupi kekagetan saya dengan mengubah mimik wajah saya. Padahal, beberapa hari sebelumnya saya beli apel yang sama di sebuah swalayan waralaba, harganya tidak sampai sepuluh ribu. Kapok dah, pikir saya, mending saya pergi ke swalayan saja daripada dipecundangi kayak gini.

***

Agaknya fenomena ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya pada saat terjadi transaksi sudah lazim. Bagi orang yang seperti saya yang enggan untuk tawar menawar, tentunya merupakan mangsa yang empuk bagi pedagang model ini. Tapi hal yang mungkin tidak disadari oleh pnjual ini adalah: cukup sekali dah saya dipecundangi kayak gini. Mending saya beli di supermarket, hypermart atau mart apapun namanya yang kebanyakan merupakan perusahaan waralaba asing.

Pertarungan antara keinginan untuk meraup keuntungan sesaat dan jangka panjang tidak pernah berhenti. Bagi yang ingin meraup keuntungan sesaat, produk yang sejelek apapun akan dijual dengan harga yang setinggi-tingginya. Tidak disadari bahwa pembeli yang sedang ditarget juga dapat menjadi media iklan gratisyang akan mensugesti dan memberi rekomendasi kepada rekan-rekannya untuk datang dan membeli produk ditempat tadi atau sebaliknya, melarang untuk datang apalagi membeli di tempat tersebut.

Sudah sunnatullah lah jika yang seperti ini sulit untuk berkembang. Meskipun sektor informal ini disebutkan sebagai penopang perekonomian di dunia ketiga, namun dengan pengelolaan yang sifatnya ingin untung dengan jumlah transaksi yuang terbatas sedangkan produknya melimpah, sulit atau bahkan tidak mungkin untuk berubah menjadi kapital.

Saat kita masuk ke took waralaba, yang umumnya namanya diakhiri dengan mart, akan kita jumpai banner harga. Banner ini bukan hanya menjadi media informasi bagi calon pembeli, tapi juga sebagai iklan tidak langsung. Sebagai informasi, calon pembeli dapat memilih dan memilah barang yang sesuai dengan kantongnya tanpa merasa dipecundangi seperti yang saya alami. Sebagai media iklan, calon pembeli akan mengkomunikasikan apa yang dilihatnya dengan tetangga atau rekan-rekannya pada saat obrolan santai. Perilaku konsumen akan membanding-bandingkan antara harga jual di tempat yang berbeda dan tentu saja kualitas produk berdasarkan pengalamannya.

***

Bayangkan jika anda menjadi pedagang yang berhadapan dengan pembeli yang non-educated tapi kaya. Apa anda akan membujuknya untuk membeli produk anda dengan harga yang diluar nalar atau anda tetap menawarkan dengan harga yang wajar? Jika anda memilih untuk membujuk, maka tidak ada bedanya anda dengan orang yang telah mencundangi saya demi 3 apel merah Washington.

Kita sering kali memaki berbagai bisnis waralaba yang semakin subur di Indonesia. Mereka boleh jadi miskin hati karena dapat mengeksploitasi SDM dan SDA kita, menyingkirkan sector informal disekitar mereka. Tapi mereka tidak miskin pengetahuan. Buktinya, setiap tahun pertumbuhannya seperti deret ukur. Dan pertambahan mereka seolah diikuti oleh pertambahan konsumen juga. Semuanya sama-sama ramai. Bandingkan dengan mereka yang bekerja di sktor informal. Sudah tahu kalo yang membeli adalah bangsa sendiri, malah dipecundangi. Sehingga menjadikan mereka bukan hanya miskin hati tapi juga miskin pengetahuan.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/