Ini Lima Fakta Menarik Tentang Pendidikan Anak Usia Prasekolah

Ini Lima Fakta Menarik Tentang Pendidikan Anak Usia Prasekolah

Ini Lima Fakta Menarik Tentang Pendidikan Anak Usia Prasekolah

Benesse Educational Research and Development (BERD) Institute

melakukan survei kepada ibu-ibu yang memiliki anak usia 4-6 tahun dari Finlandia, Cina, Jepang, dan Indonesia tahun lalu.

Direktur PT Benesse Indonesia, Daisuke Okada menjelaskan di Indonesia, survei dilakukan kepada 900 responden yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Survei dilakukan dengan mewawancarai para ibu dengan kunjungan ke rumah.

“Poin-poin yang disurvei antara lain waktu kebiasaan anak terkait media pembelajaran, sudut pandang orang tua terkait pengasuhan dan pendidikan untuk anak, harapan untuk masa depan anak, kemampuan sosial emosional anak, waktu yang dihabiskan bersama anak, dan sebagainya,” ujar Daisuke dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Minggu (20/5).

Daisuke menjelaskan negara subyek survei penelitian adalah negara- negara yang berada di benua Asia, seperti Jepang, Indonesia yang merupakan negara dengan ekonomi berkembang, terdiri dari berbagai macam agama dan etnis, Cina yang fokus pada pengembangan kemampuan sosial emosional dalam pendidikan usia dini. Sebagai perbandingan, dari benua Eropa dipilih Finlandia.

Dibandingkan ibu-ibu dari Jepang, Cina, dan Finlandia, Daisuke menilai Ibu-ibu

di Indonesia memiliki keinginan yang lebih kuat agar anaknya menjadi sosok yang mewarisi keturunan keluarga, sosok yang akan mengurus orang tua di masa yang akan datang, sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua, dan sosok yang akan mengabdi kepada masyarakat di masa depan.

Berikut lima fakta menarik dari hasil survei tersebut, yaitu:

1. Terkait waktu kebiasaan anak. Ternyata, anak-anak Indonesia tercatat bangun tidur lebih awal. Alasannya, Indonesia memiliki banyak kegiatan di pagi hari dan bagi anak-anak pemeluk agama Islam harus melakukan sholat Subuh.

“Pada hari biasa, anak Indonesia yang bangun tidur sebelum pukul 05.30 mencapai 11,1

perseb dan yang bangun pada pukul 06.00 mencapai 31,9 persen,” jelas Daisuke.

Sementara itu, anak-anak di tiga negara lainnya (Jepang, China, dan Finlandia) yang bangun tidur pada pukul 05.30 hanya mencapai kurang dari 3 persen. Adapun, yang bangun pada pukul 06.00 hanya kurang dari 13 persen. Anak-anak di Jepang, Cina, dan Finlandia ternyata lebih banyak bangun tidur pada pukul 07.00.

2. Terkait waktu yang dihabiskan di playgroup atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Hasil survei mengungkapkan bahwa 89,8 persen anak Indonesia menghabiskan waktu kurang dari 4 jam di PAUD. Itu artinya, lebih singkat dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain.

Anak-anak di Indonesia ternyata tidak ada yang pernah menghabiskan waktu di PAUD hingga lebih dari 8 jam. Sebaliknya, anak-anak di negara lain justru banyak menghabiskan waktu di PAUD hingga lebih dari 8 jam.

Anak-anak di China yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di PAUD mencapai 50 persen. Selanjutnya, disusul oleh anak-anak di Finlandia 44 persen, dan Jepang 10 persen. Lamanya anak-anak di Jepang, China, dan Finlandia menghabiskan waktu di PAUD karena banyak orangtua di sana adalah wanita pekerja.

3. Terkait mengasuh anak dari perspektif ibu. Bagi Ibu di Indonesia, ada tiga hal yang memerlukan usaha paling besar dalam mengasuh anak. Pertama, yaitu menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti menyikat gigi, mandi, dan sebagainya 66.9 persen. Selanjutnya, disusul dengan usaha menjaga kesehatan tubuh 64.8 persen, dan main bersama orang tuanya 56.7 persen.

Dalam studi longitudinal, perkembangan pada usia prasekolah (3-6 tahun) yang dilakukan oleh BERD, anak-anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3-4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik pada usia 4-5 tahun. Kemampuan sosial emosional itu berhubungan dengan perkembangan aspek kognitif seperti huruf, angka, dan kemampuan berpikir.

“Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan hidup sejak dini sangat penting untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif anak,” tutur Daisuke.

4. Terkait harapan orang tua terhadap masa depan anak. Hasilnya, para ibu Indonesia di Indonesia mengharapkan anaknya menjadi orang yang menyayangi keluarga 75,8 persen, menjadi orang yang memiliki sikap kepemimpinan 53,1 persen, dan menjadi orang yang bisa memanfaatkan kemampuan tinggi dalam pekerjaan 35 persen.

Serupa dengan ibu di Indonesia, ibu di China 77,9 persen dan Finlandia 81,7 persen juga menginginkan anak mereka menjadi orang yang menyayangi keluarga. Hanya para ibu di Jepang berharap anak mereka menjadi orang yang memiliki pendirian atau pendapat sendiri 72,3 persen.

5. Terkait sosok seorang anak. Para ibu di Indonesia menilai anak menjadi sosok yang mewarisi keturunan keluarga untuk masa depan 64,3 persen, sosok yang akan mengurus orang tua di masa yang akan datang 57,9 persen, dan sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua 57 persen.

“Tiga penilaian tersebut merupakan hasil survei yang unik dari Indonesia, karena 30 poin lebih tinggi dibandingkan negara lain,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://rushor.com/materi-simantik-dan-etimologi/