Menristekdikti Resmikan Gedung Senilai Rp388 Miliar, Targetkan ULM Raih Akreditasi A
By: Date: November 25, 2019 Categories: Pendidikan
Menristekdikti Resmikan Gedung Senilai Rp388 Miliar, Targetkan ULM Raih Akreditasi A

Menristekdikti Resmikan Gedung Senilai Rp388 Miliar, Targetkan ULM Raih Akreditasi A

Menristekdikti Resmikan Gedung Senilai Rp388 Miliar, Targetkan ULM Raih Akreditasi A

Menristekdikti Resmikan Gedung Senilai Rp388 Miliar, Targetkan ULM Raih Akreditasi A

Banjarmasin – Satu-satunya universitas negeri di Kalimantan Selatan, Universitas Lambung Mangkurat

(ULM) mendapat 12 gedung baru yang total luas seluruh gedungnya berjumlah 28.795 meter persegi dengan nilai pembangunan sebesar 388 Miliar Rupiah.

Seluruh anggaran tersebut didapatkan dari hibah The Support to the Development of Higher Education Project dari Islamic Development Bank (IsDB) kepada tujuh perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya ULM. Hibah ini juga disebut sebagai 7in1 Project.

“Sekarang saya baru selesaikan dan resmikan 29 ribu meter persegi. Program studi yang A

dulu hanya 4. Sekarang 21 program studi sudah A. Mudah-mudahan akreditasi perguruan tingginya bisa A,” ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat meresmikan Gedung Baru Proyek Islamic Development Bank (IsDB) 7in1 Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin pada Selasa (5/3).

Dengan fasilitas baru ini, Menristekdikti memberikan target pada ULM agar dapat mendapatkan akreditasi program studi yang lebih banyak. Saat ini masih ada 57 program studi terakreditasi B dan 4 terakreditasi C di ULM. Akreditasi perguruan tinggi ULM juga ditargetkan naik dari B ke A pada 2019. Nasir meyakini ULM dapat menyusul 87 perguruan tinggi yang sudah mendapat akreditasi perguruan tinggi A.

“Target saya 100 perguruan tinggi Indonesia bisa mencapai A. Dulu hanya 19. Lima tahun untuk

bisa menyelesaikan menjadi 100, berarti perlu lompatan 81 perguruan tinggi menjadi A,” ungkap Menristekdikti.

ULM juga diberi tugas oleh Menristekdikti untuk mengembangkan Program Studi Jarak Jauh (PJJ) agar dapat menyediakan layanan bagi lulusan SMA dan SMK yang terpaksa harus bekerja dan tidak dapat berkuliah.

“(Dengan PJJ) Pemuda Indonesia yang sekarang bekerja dari lulusan SMA dan SMK, mereka bisa kuliah lagi. Kalau kita kembangkan ini, mudah-mudahan perguruan tinggi kita semakin berkualitas,” ungkap Nasir.

 

Baca Juga :