Pengertian Apresiasi Sastra

Pengertian Apresiasi Sastra

Pengertian Apresiasi Sastra

 

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio 

Yang berarti mengindahkan atau menghargai. Sehubungan dengan pengertian apresiasi sastra, para pakar telah banyak yang memberikan batasan. Menurut Sudjiman (2006: 9) apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra yang didasarkan atas pemahaman. Selanjutnya, Sapardi mengartikan apresiasi sebagai penghargaan langsung antara pembaca dan karya sasta karena penghayatan tidak akan tercapaitanpa hubungan langsung (Shindunata, 2001:214). Secara lebih rinci, Effendi (2002: 7) menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.


Apresiasi puisi pada hakikatnya merupakan

Kegiatan memahami, menhayati, dan memberikan tanggapan ataupun penghargaan terhadap puisi. Apresiasi puisi merupakan penghargaan terhadap puisi melalui aktivitas resepsi, produksi, performansi, dan dokumentasi. Dengan demikian, kegiatan apresiasi bukan sekedar kegiatan proses memahami, tetapi juga menyangkut penampilan, bahkan menghasilkan karya sastra (Tjahjono, 2002:69).

 

Dalam konteks yang lebih luas

Istilah apresiasi menurut Gove memiliki beberapa makna, yaitu (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengungkapan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan. Witherington dalam Rusyana (1984: 7), membedakan apresiasi sastra dari reaksi perasaan emosi atau kesenangan terhadap sesuatu. Tugas utama pendidikan adalah mengembangkan cita rasa akan hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan.

Cakupan apresiasi sastra sangat luas, meliputi segala aspek kehidupan manusia, khususnya yang mengandung nilai pada tingkatan yang lebih tinggi seperti kesenian. Apresiasi sastra dapat diterangkan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya, serta kenikmatan yang ditimbulkan sebagai akibat dari semua itu. Menurut Wellek & Warren, unsur-unsur sastra yang dianalisis antara lain berdasarkan stratanya; (1) sistem bunyi, eufoni, irama, (2) kesatuan makna dan gaya bahasa, (3) imaji dan metafora, (4) simbol dan sistem simbol, (5) metode dan teknik, dan lain-lain.

 

Dalam konteks pembelajaran sastra, pengalaman berapresiasi

Puisi tentunya tidak semata-mata diperoleh dalam proses pembelajaran di kelas. Sayuti (2001: 4) menyatakan bahwa pengalaman berapresiasi sastra dapat diperoleh melalui sejumlah kegiatan, yaitu kegiatan membaca karya sastra (kreatif), mendengarkan karya sastra yang dibacakan, diceritakan, dideklamasikan; menonton karya sastra yang dipentaskan: pentas drama, dramatisasi puisi, atau cerpen. Kegiatan membaca (atau juga membacakan), mendengarkan, menyaksikan karya sastra itulah yang membawa siswa memperoleh pengalaman apresiatif (pengalaman literer). Tanpa kegiatan seperti ini, rasanya sulit bagi siswa untuk memperoleh pengalaman literer.

Di samping memperoleh pengalaman berapresiasi, penting juga bagi siswa untuk memperoleh pengalaman berekspresi, yaitu berdeklamasi, atau membaca puisi secara nyaring, mementaskan atau membawakan dialog, serta berbagai ekspresif yang perlu dilakukan. Pengalaman ini akan berpengaruh pada pengalaman berapresasi sastra.

Kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman teks puisi itu sendiri. Kegiatan mengapresiasi puisi dapat ditempuh dengan memahami struktur yang membangun puisi tersebut. Menurut Siswantovo (2002: 14) agar struktur karya sastra dapat dipahami dan maknanya dapat direbut dengan tepat, pembaca perlu mengenal dan memahami bagian-bagian atau elemen-elemen karya sastra. Dengan demikian, untuk mengenal, memahami, menikmati dan menghargai puisi dapat ditempuh dengan mengenal struktur yang membangun puisi tersebut, baik menyangkut unsur isi maupun bentuk.

Dari pengertian di atas pembelajaran apresiasi sastra di sekolah dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami dan mamanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dalam kemampuan berbahasa. Tujuan tersebut dicapai melalui pembelajaran apresiasi puisi, drama, prosa fiksi, kritik sastra, dan penulisan kreatif sastra. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/