Persamaan dan Perbedaan Antara Filsafat dan Agama
By: Date: July 13, 2020 Categories: Umum

Persamaan dan Perbedaan Antara Filsafat dan Agama

  1. Persamaan Filsafat dan Agama
  2. Filsafat dan agama bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dalam hal yang sama yaitu kebenaran. Sifat dari filsafat adalah mencari kebenaran secara radikal, sistematis, dan universal, sedangkan agama memberikan kebenaran secara konprehensif. Filsafat dan agama dapat memunculkan prodak berupa ilmu pengetahuan.
  3.  Peran agama terhadap filsafat adalah meluruskan filsafat yang spekulatif pada kebenaran mutlak yang ada pada agama, sedangkan peran filsafat terhadap agama adalah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran kritis dan logis.

Perbedaaan Filsafat dan Agama

  1. Filsafat merupakan hasil dari sumber yang sama  yaitu ra’yu (akal, budi, rasio), sedangkan agama bersumber dari wahyu.
  2. Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekultif. Adapun kebenaran agama bersifat mutlak(absolut)
  3. Filsafat dimulai dengan sikap sangsi, sedangkan agama dimulai dengan percaya/iman.
  4. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang. Sedangkan agama berhubungan degan hati.
  5. Filsafat walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Sedangkan Agama di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
  6. Seorang ahli filsafat jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak. Sedangkan Agama oleh pemeluk-pemeluknya akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dn mengabdikan diri.

Filsafat Kristen

Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Tak heran, filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas, Santo Bonaventura, dan

lain sebagainya.

 Selain dua agama terbesar diatas, masih ada beberapa agama lainya yang melahirkan pemahaman falsafi yang sampai sekarang masih eksis. Misalnya Budha, Taoisme, dan lain sebagainya. Buddha dalam bahasa Sansekerta berarti mereka yang sadar, atau yang mencapai pencerahan sejati (Dari perkataan Sansekerta: untuk mengetahui). Budha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, ia sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama yang dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini. Sidharta adalah guru agama dan pendiri Agama Buddha. Dalam pandangan lainnya, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar. Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan. Pencapaian nirwana (nibbana) di antara ketiga jenis Buddha adalah serupa, tetapi Samma-Sambuddha menekankan lebih kepada kualitas dan usaha dibandingkan dengan dua lainnya.
Taoisme merupakan filsafat Laozi dan Zhuangzi (570 SM – 470 SM) tetapi bukan agama. Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan kebendaan adalah “De”. Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai “Kesedaran Dao”. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai “Kesedaran Dao” dan juga mendewakan. Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang. Yin dan Yang dengan saintifiknya diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda adalah dualisme, terdapat positif mesti adanya negatif; tidak bernegatif dan tidak berpositif jadinya kosong, tidak ada apa-apa. Bahkan magnet, magnet memiliki kutub positif dan negatif, kedua-dua sifat tidak bisa diasingkan; tanpa positif, tidak akan wujud negatif, magnet tidak akan terjadi.

https://haciati.co/